Search

think as beginner

growing through learning

Crushed

I got the car crushed one day after I received the driving liscense. I did not see it first, the white big fortuner eith its nose, obviously making space for others. 

Me tough, i thought i did it alright, turning the car to the left, with no clue what wold happened next.

But it was not a real problem. The car. The real problem was that it was not even my car. It was my sister’s. 
#tobecontinued

A Mother and A Daughter Extended

She is just 18

She is awake never sleep

Helplessly wanted to be loved

Desperately wanted to say i love you

But her lips are tight

Her teeth gritted

She could not let go

She could not say no

To the sweet sweet night

Until she loose the sight

And her little sister cried

And her mother said goodbye
I was standing there dumbstrucked

The story i heard is achingly sad

Someone is throwing away the young life

Why is the word keep hanging on my mind
Perhaps the world is too dark

Or the light is too little

But it is us who have the key

The freedom to choose our path

The life we want to live
Perhaps there is no easy way

Reaching everything we want

But sometimes we forget many things we already been given

Or we just too blind to be grateful and learn from our mistakes

The truth is, we cannot defeat time, but we can make the most of it.

A Mother and A Daughter

She is just 18

She is awake never sleep

Helplessly wanted to be loved

Desperately wanted to say love

But her lips are tight

Her teeth gritted

She could not let go

She could not say no

To the sweet sweet night

Until she loose the sight

And her little sister cried

And her mother said goodbye
#a true story i heard from a patient family, when my father is hospitalized in an iccu.

Dia (2)

Aku sudah tidak tidur hampir dua hari.
Kedua mataku memerah, telingaku berdengung, dan aku kini mulai menguap nyaris setiap lima menit sekali.

 

Jembatan ini masih sepi saja. Tak satupun kendaraan yang lewat kecuali kuda-kuda pengangkut jerami dan beberapa sepeda motor. Tentu saja sepi, ini masih pukul 4 pagi.

 

Aku menguap lagi.

 

Sampai kapan aku harus menunggu di sini?

 

Ia tak kunjung datang.

Padahal rinduku sudah tak tertahankan.

 

Untung ada Moppy yang menemaniku.

Moncongnya sejak sejam lalu menciumi dagu, pipi dan hidungku. Mungkin ia bingung mengapa aku bersikukuh nongkrong di dekat jembatan ini.

 

Aku menarik napas. Ke manakah ia? Apakah ia tidak menerima suratku?

 

Aku membayangkan kembali kejadian tadi pagi di sekolah. Ketika dengan tangan gemetaran, kepala tertunduk, kuberikan surat berbungkus amplop kuning muda itu padanya.

 

“Nantipagikkkkalaumauaaakumauajakkkamukepantaitolongdatangdijembatanmerahya”

 

begitu kira-kira perkataanku padanya. Lebih mirip sumpah serapah daripada ajakan romantic.

 

Ia belum sempat menjawab apa pun dan aku belum sempat melihat reaksi wajahnya.

 

Aku sudah lari terlebih dahulu.

 

“Jadi? Loe lari?” Anton berteriak tepat di kupingku ketika aku melaporkan keberhasilan usahaku itu dua jam kemudian. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangan dan mendesis. Lalu mendesah. Dan menghela napas.

 

“Kenapa, sih?”

 

Anton mendongak dengan mata memicing yang aku sudah tahu artinya.

 

Seharusnya aku tidak bertanya.

 

“Oke, oke…aku memang lupa memberikan jam tepatnya pada Nadia…dan aku juga lupa memberitahukan padanya kalau surat itu sebenarnya darimu…lalu,”

 

Anton menyetopku dengan segala kekuatannya.

 

“Berhentilah mencari alasan dan mempermalukan diri sendiri, Paduka Yang TIDAK Bijaksana!” serunya sambil mengatupkan kedua telapak tanganku ke kedua pipiku. Keras sekali sampai mata kiriku memicing.

 

Aku mengenal Anton seperti mengenal saudara kandungku sendiri. Yah, bukan berarti aku pernah memiliki yang namanya saudara kandung, namun aku dapat membayangkan apa yang terjadi bila aku punya saudara.

 

-mungkinbersambung-

Pagi

Nyaris setiap hari aku bermimpi. Kadang mimpiku menyenangkan, menikmati kue tart stroberi dengan krim keju misalnya. Kadang aku bermimpi menjadi superhero, berkekuatan ajaib yang bisa menyelamatkan orang lain dari bahaya. Tapi kebanyakan mimpiku aneh. Seperti hari ini.
Aku bermimpi bertemu dengan orang yang sudah mati. Dan ia berkata padaku, matahari hendak terbit dari barat, jadi aku harus melakukan sesuatu. Bila tidak, aku akan menyesal.
Ketika aku terbangun, ada air mata meleleh di pipiku. Aku tidak mengerti bagaimana itu terjadi. Namun aku merasa aku tahu aku bermimpi ketika aku tengah bermimpi. Kau pernah mengalaminya juga kan?
Orang yang telah mati itu adalah sahabat kecilku. Namanya Nadia. Ia dulu tinggal beberapa rumah dariku. Setiap pagi tepat pukul 6:30 ia akan memanggil namaku dari luar pagar rumah. Sambil memencet bel terus- menerus. Aku akan tergopoh-gopoh datang dan membukakan pintu untuknya. Kami pun pergi ke sekolah bersama dengan berjalan kaki. Ia akan bercerita tentang apa yang dialaminya kemarin. Aku akan mendengarkan. Aku akan memperhatikan wajah bulatnya yang kemerahan dan mata sipitnya yang hanya tinggal segaris bila ia sedang tertawa. Gigi gingsulnya akan terlihat dan ketika itu terjadi, aku akan terkekeh-kekeh. Aku tidak yakin Nadia tahu tapi aku menyukainya. Amat menyukainya. Terutama ketika ia tertawa.

Pagi ini aku termenung-menung hingga mamaku menegurku karena aku menjatuhkan gelas berisi susu putih (tanpa gula, aku lebih suka rasa gurihnya) dan hanya diam saja sambil menelengkan kepala.
“Kok bengong? Bian, ayo bersihkan.” Ujar Mamaku.

-mungkin bersambung-😁

An Empty Chair

Sitting on an empty chair
Waiting

Entering the room full of chattering

Silence hastily, a cold welcoming

Keeps me wondering
It’s deafening

The quiet loud mumbling

It’s weakening

The cramped feeling
What to do?

Oh what to do?
Nothing but accepting

Cannot please everybody

Cannot read minds of somebody

Just holding to yourself 

Believe you are doing good is remedy

Dan Ia (Chapter 1)

Mataku tak bisa lepas darinya. Ketika musik menghentak, seketika tubuh dan sikapnya berubah. Ia tidak lenyap dalam melodi dan ketukan. Ia menjadi satu dengannya dan membuat semua lidah berdecak, seruan kagum bertebaran, dan aku? 

Aku berdiri di sana dengan mulut terbuka.

Bagaimana bisa gerak manusia selentur namun juga setajam itu? Ketika alunan musik melembut, ia bergerak bagai air dan gemulai, namun tidak seperti gemulai perempuan. Ketika perkusi berdebam, kepala, bahu dan lengannya bergerak cepat dan tajam mengikuti patahan iramanya. 

Di antara sepuluh penari di atas panggung yang nyaris menyamai lapangan sepak bola itu, ia seolah penari tunggal, lainnya figuran. Matanya tajam dan tak sekalipun melirik rekan penari lain. Seolah mengatakan aku tahu diriku, keinginanku, tarianku. Kadang matanya terpejam, kadang memicing, kadang lurus ke depan. Dari awal hingga akhir lagu ia tak sekalipun tersenyum, namun rasa yang ada di dalam dirinya menguar tanpa lawan, menyentuh hati ribuan pasang mata yang menyaksikan seorang penari kelas dunia.

Dan aku, saat itu baru 10 tahun, tak kuasa menahan air mata.

#yaklatihanjuga

Hyu

Namaku Hyu. Mereka menyebutku mesin pembunuh yang tak mengenal kasihan. Aku tidak pernah membiarkan makananku hidup lebih dari satu tarikan napas. Kubuka rahangku lebar-lebar, lalu kuhujam bagian terlemah mereka tanpa meleset. Aku bisa merasakan jiwa mereka dengan cepat melayang keluar dari tubuh lunglai itu, lalu kutelan nyaris tanpa kukunyah. Ya, memang mereka menyebutkan mesin pembunuh yang tak mengenal kasihan. Ibarat kotoran hidung, aku tak pernah bisa lepas dari julukan itu. Tapi tidak banyak yang tahu aku jauh lebih penakut daripada siput air dan aku sering kesepian. 

Ketika aku masih bayi dan ukuranku hanya sebesar dua ekor anjing laut dewasa, mamaku berkata, “Kau akan tumbuh besar, Nak. Gigimu akan menghujam dan tajam, lebih kuat dari batu karang. Kau akan mampu mencium wangi darah yang ada di belahan timur matahari sana walaupun tertutup kapal karam sekalipun, dan kalau kau gunakan sirip dan ekormu dengan baik, kau bisa menyusuri hutan laut ini lebih cepat dari badai tsunami yang lalu”. Begitu kata Mamaku. Aku berharap Mamaku tidak menceritakan itu semua padaku. Kala itu aku bahkan tidak tahu karang itu apa, dan mengapa kakiku bentuknya menyatu dan tidak berjumlah banyak seperti Kani Si Kepiting, makhluk apakah kapal karam itu, dan siapakah badai tsunami, yang terdengar begitu memukau bagiku. Namun karena hampir setiap kali aku hendak tidur Mamaku menceritakannya, aku pun mulai memperhatikan tubuhku, gigiku, ekorku, semua bagian tubuhku yang sanggup kulihat. Kalau aku tidak bisa melihatnya, seperti gigiku sendiri, aku akan mencoba untuk merasakan perbedaan tubuhku antara saat ini dan nanti dengan menyentuh benda lain, menggigit ekor Mamaku, misalnya. Dan ketika Kani si Kepiting kebetulan melihatku berputar-putar sendiri untuk melihat perkembangan ekorku, ia akan tergelak mentertawakanku, sehingga aku malu. Dan bukan hanya dia yang seperti itu. Aku pun bingung dan mulai tidak percaya diri. Aku mulai bertanya-tanya apakah Mamaku mengatakan hal yang benar. Kalau memang aku semakin lama semakin besar, dengan gigi tajam dan penciumanku hebat, bukankah makhluk macam Kani si Kepiting dan Uli si Udang mustinya takut padaku? 

 

Selama beberapa waktu, yang menurutku sebentar sekali, aku mengikuti mamaku ke mana-mana. Kadang aku hanya melihat gelap dan terang kebiruan, kadang ada juga warna merah, hijau, ungu, dan pernah sekali waktu aku melihat dunia hanya tampak putih saja dan rasanya lebih dingin. Kalau aku menyelam sampai jauh sekali ke bawah, aku akan melewati berbagai bukit dan lembah yang dihuni berbagai makhluk air berwarna-warni. Bentuknya pun macam-macam, ada yang diam tidak ke mana-mana, permukaannya lebar dan ketika aku coba gigit, rasanya keras sekali. Bagian atasnya ditumbuhi Kajora, aku namakan begitu, makhluk berwarna cokelat putih yang berkaki panjang-panjang dan mengarah ke atas seperti mahkota, di dalamnya seringkali ada ikan kecil berwarna merah, putih dan biru yang keluar masuk. Aku tidak tahu namanya. Lalu ada juga makhluk yang kepalanya jauh lebih besar dari badannya dan tidak punya mulut, hanya kaki dan selaput, melayang-layang dan berkedut-kedut, seringkali bercahaya dan berwarna-warni, indah sekali.

 

Apakah kau pernah merasakan lapar yang amat sangat? Aku sering. Ketika itu terjadi, ada rasa kosong di perutku dan biasanya mataku semakin tajam, hidungku semakin kembang kempis, dan aku bisa melihat dan mencium jauuuh sekali. Aku bisa mengetahui apakah ada makanan dari kejauhan dan biasanya makanan itu tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi ketika aku melesat datang untuk melahapnya. Ia seolah sudah menungguku sejak lama di sana. Suatu kali perutku sampai berbunyi keras dan dari jarak beberapa gelombang, aku bisa mencium wanginya ikan buntal berwarna kuning berbintik cokelat. Aku meluncur dalam diam, biarpun air liurku mulai memenuhi mulutku, nyaris tak tertampung. Ketika tidak ada lagi cahaya, kuhentakkan ekorku sekuat tenaga dan kulahap ia. Tanpa kukunyah. Cukup untuk mengganjal perutku sampai waktunya tidur nanti. 

 

Menurut Mamaku, aku melesat jauh lebih cepat darinya. Itu terjadi karena dua hal. Pertama, adalah ketika aku sedang gembira dan ingin bermain. Kedua, adalah ketika aku sedang lapar. Sebenarnya ada yang ketiga, yaitu ketika aku sedang ketakutan. Tapi Mamaku bilang tidak ada yang perlu kutakutkan di dunia biru ini. Selama aku tetap berada di dalamnya. Kalau aku sudah cukup besar, aku mungkin boleh berenang lebih tinggi, dan sesekali muncul ke permukaan air. Dari kedalaman aku sering melihat ada warna lain di atas sana. Beberapa kali aku melihat puluhan makhluk dengan bentuk yang belum pernah kulihat sebelumnya, bergerak cepat ke sana kemari. Ketika makhluk itu lewat, maka duniaku akan bergetar, bunyinya memekakkan telinga, dan buih-buih akan muncul banyak tak terkira. Membuatku yang di bawah sana batuk-batuk. Aku tak suka mereka. Tapi aku penasaran seperti apa rasanya melongokkan kepalaku ke atas sana. Aku tidak bisa mengerti mengapa di usiaku yang sekarang ini Mamaku masih juga belum memperbolehkanku muncul hingga ke permukaan. Bukankah gigiku sudah cukup tajam hingga bisa menghancurkan batu-batu di dasar lembah? Bukankah aku sudah pandai meluncur, meliukkan ekor dan siripku mengikuti gelombang dan cahaya? Aku rasa dua hal itu sudah cukup membuatku mampu menghindari bahaya apa pun yang mungkin kuhadapi nanti. Jadi kuputuskan saja, besok, aku akan melakukan hal yang belum pernah kulakukan seumur hidupku. Melompat keluar dari air. 

#masihlatihan#teruslatihan

Being Brutally Honest and The Consequences

I guess I’m always easily be amazed with someone who bring you the energy. Not to the point of falling in love, but inspired.

I perfectly understand that no one is perfect. Only Allah SWT is. People, among all His creations, are the most likely to be guilty, we all have our flaws no matter how beautiful or cool we are. Take the most common fact in life: we all need to go to the toilet. That’s for sure.

Perhaps because I understand that we people, can never be perfect, I always find something interesting to be learned. The problem is, almost everything is interesting for me. So I have many interests…and soon I will be in trouble to choose, and that’s when I need to remember my priorities in life.

One of them that I always consistently keep is my values. Honesty is one of them, together with integrity. I try to speak what I think, and do what I speak. I choose not to have any hidden agenda because I believe it is the right thing to do. I read and love to read, and I am confident that I have the talent to choose word effectively. But at the end I mostly choose to say something that is brutally honest and candor, that sometimes people who don’t used to it feel they are being challenged. Well sometimes I do that because of my job. But people who don’t know me well enough might get the wrong perception about who I am. Just like my Coach in Lumina, who is also a psychologist, said to me and other participants during the intro of Lumina training: a study shows that people, even to stranger, has the ability to judge others only within less than 1.5 seconds, and it was done by looking at the behavior either daily or on the spot which represents 10% only or even less of your true self. From that moment I try very hard not to judge others. At least not so quickly.

When you try to be you, and one of efforts is by speaking up your mind and what’s inside your heart, with no intention except attacking the issues, people can be easily misjudging you. It is what we are designed for, perhaps. To make a good judgement. We have the previllage to choose our mind and response.

This is probably what happened (or probably just stories…I really don’t know him personally and I only get this impression from interview articles and videos) to one of my favorite Kpop-actor currently, Kim Jaejoong. It is being said in many online articles that he is brutally honest, even in important interviews which will affect his image, that sometimes he gets in trouble (don’t now for sure what kind of trouble it is) especially from those who are not his fans or fond of him.

So, being brutally honest might leads you to consequences. And not all of them are positive. But I will choose to keep honest anyway.
I just read one of the poem from a potential young writer, that he choose to lie to himself because some people get tired for being too honest.

I totally disagree.
And a little bit dissapppointed.

For me, honesty means releasing your self from the burden to lie. I think it is natural for us human to tell the truth. We don’t need to do any efforts to cover up the stories, to convince others to believe them or to make the stories believable. None of those are necessary because we just need to tell the truth, what’s inside our head and heart. It is freedom that might not be provided in several countries even today.

Lying, on the other hand, will cost your energy. It will consume your soul and eating you alive from the inside. Stress due to the pressure to find other way to lie in order to cover previous lie, and endless story of suffering.

At the end, I don’t want to suffer.
I love my self too much to let me do things that are inconsistent with my heart.
And that is why I love Prince JJ and all artists who are brutally honest in their work, Jack Welch who wrote special chapter about candor, and many other inspirational people who choose to stay true to themselves because it is the right thing to do.

 

The way we communicate our honesty to be accepted by other people  though, is another topic to discuss.

#dailywritingNo.1

Blog at WordPress.com.

Up ↑